Bumi terus menjadi ruang kelas terbaik kita. Lebih dari setahun yang lalu, kami meluncurkan inisiatif 1% untuk Tanah dengan tujuan yang jelas: untuk meregenerasi 10.000 hektar tanah dan berinvestasi kembali pada proyek-proyek yang menghasilkan dampak jangka panjang, tidak hanya di lapangan, tetapi juga dalam mentalitas generasi mendatang.
Setiap enam bulan, kami bertemu dengan komunitas kami untuk mempresentasikan kemajuan dan anggaran kami, dan setahun sekali, kami memilih inisiatif mana yang ingin kami investasikan untuk semester berikutnya. Di antara berbagai inisiatif yang berbeda, komunitas kami memilih “Viva el Campo”, yang diselenggarakan oleh pertanian La Junquera di area Camp Altiplano (Kamp Restorasi Ekosistem), sebagai salah satu proyek yang didukung tahun ini. Inisiatif ini mencerminkan arti sebenarnya dari regenerasi: menyebarkan pengetahuan, menghubungkan kembali masyarakat dengan tanah, dan menginspirasi generasi muda untuk melihat tanah sebagai fondasi kehidupan. Ini adalah program pendidikan yang membawa siswa keluar kelas dan ke pedesaan untuk belajar tentang tanah, keanekaragaman hayati, air, dan juga asal usul serta masa depan pangan. Jacobo, ketua program tersebut, menceritakan bahwa di banyak daerah pedesaan di Spanyol, termasuk Wilayah Murcia, kaum muda sering kali tumbuh tanpa pernah menginjakkan kaki di pertanian. Mereka mungkin belajar tentang perubahan iklim, fotosintesis atau erosi tanah dari buku teks, namun hanya sedikit yang mempunyai kesempatan untuk menyentuh segenggam tanah, mengidentifikasi cacing tanah atau melihat secara langsung bagaimana kelangkaan iklim dan air mempengaruhi tanaman. Sekolah seringkali kekurangan waktu, dana dan infrastruktur untuk menyelenggarakan kegiatan pembelajaran di luar ruangan. Para guru ingin sekali menunjukkan kepada siswanya seperti apa lahan hidup tersebut, namun tidak ada program terstruktur, tidak ada peternakan terdekat yang dapat menampung mereka, dan tidak ada tempat dalam kurikulum. Akibatnya, bidang tersebut tetap menjadi sesuatu yang jauh, sesuatu yang mereka baca, bukan sesuatu yang mereka identifikasi.

Setiap tahun, siswa sekolah menengah berusia 12 hingga 16 tahun meninggalkan papan tulis dan layar kehidupan sekolah sehari-hari dan pergi ke peternakan lokal di Spanyol. Di sana, mereka menjadi peneliti dan pengamat. Selama seminggu, mereka mengeksplorasi bagaimana pangan diproduksi dan bagaimana pertanian berhubungan dengan tantangan yang lebih luas seperti kelangkaan air, degradasi tanah dan perubahan iklim. Setiap hari memiliki tema tersendiri, mulai dari apa yang kita jalani hingga keanekaragaman hayati yang menopangnya. Siswa mengumpulkan sampel tanah, mengidentifikasi tumbuhan dan serangga, mengukur infiltrasi air, dan mencatat pengamatannya dalam buku catatan lapangan. Mereka menemukan hubungan antara petani dan ekosistem, antara keputusan manusia dan konsekuensinya terhadap lingkungan, antara lahan dan meja.
Inti dari Viva el Campo adalah program penelitian mini. Setiap kelompok siswa mengembangkan eksperimen praktis kecil: membandingkan retensi kelembaban tanah dengan dan tanpa tutupan vegetasi, mengamati keanekaragaman hayati di berbagai habitat atau menguji bagaimana praktik regeneratif memengaruhi penyerapan air. Dipandu oleh petani dari La Junquera dan pendidik seperti Jacobo, mereka mengumpulkan data, menganalisis hasil, dan membagikan temuan mereka di akhir minggu. Percobaan dilakukan pada tiga petak dengan metode pengelolaan yang berbeda: non intervensi, regeneratif dan konvensional versus organik. Siswa mengumpulkan sampel tanah dengan auger dan sekop, dan menganalisis indikator seperti pH, kelembaban, unsur hara (NPK), dan aktivitas mikroba. Mereka juga menggunakan teknik seperti perangkap invertebrata, uji infiltrasi, kultur mikroorganisme, pengukuran respirasi tanah, dan analisis biomassa. Data dianalisis dan dibandingkan di kelas, dimana siswa menyiapkan laporan ilmiah singkat. Di dalamnya, mereka menyajikan kesimpulan, menjelaskan proses penelitian dan merefleksikan dampak praktik pertanian terhadap kesehatan tanah. Latihan ini memperkuat keterampilan ilmiah mereka dan memungkinkan mereka mengkomunikasikan hasil yang diperoleh di lapangan dengan cara yang tepat dan mudah diakses.

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi pertanian Eropa saat ini adalah kurangnya perubahan generasi. Banyak peternakan yang berisiko tutup, bukan hanya karena kondisi cuaca yang semakin buruk, namun juga karena tidak ada pihak yang bertanggung jawab. Semakin sedikit generasi muda yang memilih sektor pertanian, sering kali hanya karena mereka selalu mempunyai gambaran negatif tentang apa yang harus dilakukan dengan bekerja di sektor ini. Menjadi seorang petani telah kehilangan gengsi seiring berjalannya waktu; Hal ini dianggap sebagai pekerjaan yang melelahkan dengan sedikit imbalan ekonomi. Persepsi ini menjauhkan generasi muda dari pedesaan dan dari profesi yang sebenarnya merupakan salah satu profesi paling penting bagi masa depan kita bersama.
Jacobo menceritakan kepada kita bahwa anak-anak dan remaja yang sebelumnya memandang pedesaan sebagai sesuatu yang jauh kini menganggapnya penting dan sering kali ingin kembali ke pertanian untuk membantu dan belajar. Jacobo menjelaskan bahwa ia selalu memulai kursus dengan bertanya kepada anak-anak muda yang ingin menjadi petani, dan biasanya tidak ada yang angkat tangan. Sebelum remaja tersebut menaiki bus kembali ke Murcia, dia mengulangi pertanyaan tersebut, dan dalam banyak kasus, dua atau tiga remaja mengangkat tangan mereka. Mereka mengamati bagaimana tanah menjadi makanan, bagaimana air disimpan dalam tanah yang hidup, dan bagaimana keseimbangan alam bergantung pada kerja sama.
Hidup pedesaan: belajar dari tanah